Him ( Papa )

Aku ingin bercerita tentang seorang tokoh yang menjadi cinta pertama putrinya.

Aku menyebutnya " Papa".

Ia bertubuh jangkung dan tegap. Dengan garis wajah dan alis yang tegas ia memiliki senyum yang hangat.

Aku ingin menuliskan setiap momen berharga saat bersamanya. Namun aku tahu, setiap kata tak mampu menunjukkan arti kasih seorang ayah pada anaknya.

Aku merindukan masa kecilku. Masa dimana aku dapat menangis sepuasnya karena bertengkar dengan saudaraku kemudian mengadukannya pada papa. "Papa, dia menggangguku!"

Aku ingat setiap teriakan kami (anak-anaknya) ketika mengetahui papa pulang bekerja. Terkadang menunggu papa pulang adalah alasan kami untuk menunda tidur siang agar tidak dimarahi oleh mama. Lucu memang. Tapi disitu ada ketulusan.

Aku mengingatnya dengan jelas. Ia yang selalu kami sambut dan kami tunggui di pintu rumah kami yang kecil. Aku hafal betul deruman motor tuanya. Setelah itu, ia akan kewalahan menghadapi sambutan riuh anak-anaknya. Sangat berisik.

Saat selesai makan tangannya yang kekar menggendong kami gadis-gadis kecilnya. " Ya, anak papa belum berat, makan tambah lagi." Katanya seraya mengangkat kami ke udara tinggi- tinggi.

Setiap membeli atau mendapatkan barang baru ia tak pernah lupa untuk memperlihatkannya pada kami. Saking menariknya, kami rela meninggalkan aktivitas kami. Dipastikan kami akan berkerumun membentuk lingkaran.

Aku menyukai harum tubuh papa. Aku suka memeluk tubuhnya bahkan ketika papa belum mandi. Bagiku sama saja. Dia masih tetap papaku.

Aku menyukai senyuman papa yang hangat. Rasanya seperti berhasil memenangkan perlombaan. Ada kebanggaan disana. Aku menyukai suara beratnya yang terdengar seperti bass, pelukan dari tangannya yang kekar, dan candaannya yang terkadang hampir lucu menurutku.

Sakitku, saat melihat papa harus menangis. Sakitku, saat melihat papa kecewa. Aku membenci saat tahu kamilah alasan papa menangis.

Meskipun terkadang kami sangat nakal dan sering membantahnya karena perbedaan pendapat, papa tetap sabar mengarahkan kami (meskipun harus marah, dan itu menakutkan). Kesabaran itulah yang membuatku menyadari bahwa papa punya cara tersendiri untuk mengarahkan kami anak-anaknya.

Melihat wajahnya yang semakin senja, aku tahu ada begitu banyak hal yang telah ia lalui. Ada begitu banyak hal yang ia korbankan untuk kami. Ia tidak punya alasan yang cukup untuk melakukan semua itu. Alasannya sederhana. Itu karena kami adalah anaknya.

Papa. Ia selalu ada buat kami. Aku pun ingin selalu ada untuknya, karena ia adalah papa.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekecewaan

Minggu, 18 Maret 2018