Minggu, 18 Maret 2018
Aku merindukanmu, hingga kewalahan.
Kenangan datang bertubi-tubi, menyerangku dengan keras.
Karena tanpa kamu rumah tak lagi sama.
Kini, kata "mama" untuk siapa?
Kamarmu, bekas pakaianmu
Tergeletak tanpa pemiliknya
Tubuhmu kaku
Membeku dikejar waktu
Aku terperangkap dalam simfoni bernama kenangan
Aku tenggelam didalamnya
Namun sisi lain diriku memukul mundur semua kenangan itu
Karena aku tak mampu menanggungnya
Terlalu berat dan terus terawat.
Aku kecewa,
Namun, kutahu Tuhan bijaksana
Keadilannya masih bekerja
Hingga badai benar mereda.
Komentar
Posting Komentar