Hujan
Detik-detik rintikan hujan memainkan elegi yang menyayat kalbu. Membiarkan setiap insan yang menyaksikannya terbuai dalam kenangan. Ia tahu benar, mereka bukan mengagumi kerelaannya yang jatuh menyegarkan bumi, tapi kenangan yang timbul bersamanya. Kenangan yang ikut terbangun bersamanya. Nampak sangat jelas bagi mereka.
Dia, hujan. Seperti sebuah diary dan album foto disaat yang bersamaan. Penuh makna dan juga kenangan. Bagaimana bisa dalam satu butiran air yang jatuh bebas bersama gravitasi memiliki ribuan kenangan yang bahkan tak bisa diungkapkan oleh sang pemilik kenangan ?
Bagi seseorang hujan mengingatkannya pada hari pertama ia jatuh cinta. Bagi seorang yang lainnya, hujan mengingatkannya akan cinta yang pupus diredam oleh derasnya suara hujan. Makna hujan begitu kontradiksi.
Seseorang pernah berkata, jangan pernah jatuh cinta saat hujan, karena ketika kamu patah hati kamu akan mengingatnya saat hujan.
Aku ingin bertanya, salahkah sang pencipta yang menentukan musim atau aku jatuh cinta pada waktu yang salah ?
Entah itu hujan, angin, langit biru , apapun itu, ketika waktunya tiba, aku pasti akan jatuh cinta. Tidak peduli itu cuaca yang baik, cukup baik, bahkan buruk sekalipun.
Aku ingin mengenang hujan dengan seribu puspa yang menyejukkan. Menyaksikan riuhan tawa dari dahan yang tertiup angin menumpahkan bekas hujannya. Dan lagi, kenangan itu berlarian di kepalaku. Sebersit kenangan hangat meskipun tubuh ringkihku kedinginan.
Kau dan aku. Menyaksikannya bersama. Tenggelam dalam gemercik air yang terciprat saat berlarian dibawah hujan-tanpa teduhan payung kuning. Mengisi keteduhan yang hampir kosong dengan canda tawa. Dan saat itu hujan telah berhenti. Hanya tersisa dua insan yang hendak pulang ke rumahnya.
Namun, hidup dalam realita tak sekadar itu. Bagai sekuntum bunga liar yang tak berarti, aku menunggu hujan di sudut ini. Menunggu kapan pelangi tiba meskipun terkadang harus menahan dan melawan takut terhadap guntur dan petir yang mungkin bisa membunuhku barang sedetik.
Meskipun mengabaikan rindu yang terselip diantara asaku yang sesak dengan pikirannya, nyatanya aku masih merindu ketika bumi tidak lagi basah.
Dan faktanya, aku jatuh cinta pada saat hujan. Dapatkah kau menghapusnya ?
Komentar
Posting Komentar