Tokoh Novel
Dia seperti tokoh utama dalam novel yang akan kubaca. Berawal dari aku yang tertarik pada sampul novelnya.
Berwarna. Menyenangkan.
Itulah yang ditangkap oleh lensaku dan dikirimkan pada sarafku. Hal itu menimbulkan kejutan listrik yang aneh.Sensasinya membuat kusadar, bahwa hatiku menghangat.
Meskipun takut untuk membuka lembaran awal, rasa penasaranku kian berteriak. Jangan katakan bila aku tak menahan diri.
Aku sudah melakukannya, namun aku tak bisa.
Jika aku bisa, aku takkan berjalan sejauh ini.
Prolog yang kau bawakan terkesan singkat, polos dan menawan. Kau mendapatkan 3 poin itu. Haruskah kau mencetak poin lebih banyak ?
Namun, apakah kau tahu ?
Bahkan prolog belum dimulai, tapi rasa sakitnya terasa. Sayangnya ini bukan cerita novel. Ini cerita tentang hidupku. Ini bukan khayalan atau imajinasi. Ini nyata.
Kau tokohnya dan aku bukan. Aneh memang, ini adalah kisah hidupku, tapi mengapa aku tak dapat menjadi tokoh utamanya ?
Jawabannya, karena kau yang kulihat. Aku tak dapat menuliskan sesuatu yang tak kulihat. Hanya kau.
Lucu ? Konyol ?
Kuakui ia. Aku baru saja mengakui kebodohanku.
Bukan, lebih tepatnya mengakui perasaanku.
Komentar
Posting Komentar