Just words : Belajar



     Dua puluh empat jam sebelum UTS, aku menyempatkan diri untuk membuat catatan ini. Ada keharusan disana, mendorongku untuk mengeluarkan apa yang membuncah di kepalaku.Saat membaca catatan ini, jangan berpikir aku aneh. Jangan tertawakan hal ini apabila itu sedikit konyol. Karena apa yang terlihat sederhana bagimu, terkesan rumit buatku.

     Aku menyadari, apa yang aku miliki masih buram dan absurd. Perkakas dan senjata yang ada ditanganku tak mampu menggetarkan dunia. Semuanya gelap, seakan tertutupi kabut hitam yang menggantung di sekelilingku. Entah apa yang harus aku lakukan. Bingung, kecewa dan putus asa hampir merenggut satu-satunya harapan yang aku genggam . Terpaan sinar mentari seakan menyembunyikan cahyanya daripadaku. Berdiam diri ditengah kabut itu menyeramkan. Sendiri dengan perasaan takut.

  Itulah gambaran dunia yang aku tinggali. Orang sederhana sepertiku belum mampu mengarungi ombak kehidupan yang ganas. Terus mencoba namun terus gagal. Rendah diri menenggelamkan aku. Jauh kedalam, hingga aku lupa bagaimana caranya bersyukur. Hingga ketika waktu beteriak mengingatkan, disaat itulah jantungku melompat. Sadar bahwa tangan perkasa itu menopangku. Perasaan kecewa dan putus asa membutakan aku melihat pertolongannya.

    Pribadi itu juga milikmu. Aku yakin kau mengenalnya. Dengan cara yang tidak aku pahami, bahkan tidak aku sangka bekerja dengan baik. Kini aku mengerti, Hidup bukanlah untuk menunjukkan siapa dirimu pada dunia, tapi untuk menunjukkan untuk siapa hidupmu di dunia. Hidup adalah sebuah proses pembelajaran. Jauh dari semua itu, aku ingin belajar untuk mengasihiNya. Belajar untuk menyenangkanNya.

  Tuhan, di hari yang kudus ini, curahkanlah RohMu bagiku. Segala doa dan harapanku, genggam erat dalam lembutnya tanganmu. Hari ini, aku tidak ingin kehilangan harapanku. Aku percaya mujizat masih nyata.

Selamat hari minggu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Him ( Papa )

Kekecewaan

Minggu, 18 Maret 2018