Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

19 Maret 2018

Hari ini, senja mempesona seperti biasanya. Namun ada yang tak biasa, jarang kulihat. "Papa tak bisa menahan tangis" Biasanya, papa pandai menyembunyikan rasa. Hanya ketegasan yang membentuk wajahnya. Namun, hari ini topengnya hancur. Ia menangis didepan kami dan jasad mama. Maaf pa, karena tak tahu seberapa besar rasa kehilanganmu. Karena separuh papa adalah mama. Hatiku pilu, seperti tersayat. Maaf, aku tak bisa berbuat banyak. Karena aku pun bingung harus bersikap apa. Kehilangan mama, nama lain dari kehilangan segalanya. Kini, kami cuman punya papa. Aku harap, papa selalu sehat. Aku masih punya banyak mimpi bersamamu Pa, yang tak bisa kita lakukan lagi bersama mama.

Minggu, 18 Maret 2018

Aku merindukanmu, hingga kewalahan. Kenangan datang bertubi-tubi, menyerangku dengan keras. Karena tanpa kamu rumah tak lagi sama. Kini, kata "mama" untuk siapa? Kamarmu, bekas pakaianmu Tergeletak tanpa pemiliknya Tubuhmu kaku Membeku dikejar waktu Aku terperangkap dalam simfoni bernama kenangan Aku tenggelam didalamnya Namun sisi lain diriku memukul mundur semua kenangan itu Karena aku tak mampu menanggungnya Terlalu berat dan terus terawat. Aku kecewa, Namun, kutahu Tuhan bijaksana Keadilannya masih bekerja Hingga badai benar mereda.

Untuk Mama

Jika boleh, aku ingin mengulang semuanya. Lahir dari rahimmu. Patuhi nasihatmu. Meringankan bebanmu. Memelukmu semauku. Aku ingin mencintaimu sebisaku. Sembilan belas tahun belum cukup Bahkan dua puluh dan seterusnya. Aku masih ingin bersamamu untuk waktu yang lama . Aku mau dan Aku rindu Tunggu aku.