Asa Pemilik Rasa
Sedikit getaran asing menuntut akalku berpikir. Aku mencari sumber asal dan akar hantaran. Aku terlonjak,, sedikit takut untuk memulai. Ada ketakutan yang menutup jalan pulang. Dulu hatiku yang enggan berteriak, kini berani beriak-riak. Ah, kenapa ini terasa aneh ? Secuil senyumnya meruntuhkan kamuflase yang tercipta, mengajakku untuk tertawa berbagi kehangatan. Sapuan senyum yang begitu sederhana, mungkinkah ? Apakah aku terlahir untuk peka terhadap sebuah kesederhanaan ? Mengapa kesederhanaan begitu manis ? Untaian kata yang berbisik bersusulan, terus terpantul memasuki area sensitif yang aku takutkan. Mengapa menjadi serumit ini ? Suara yang kodratnya berpasangan dengan telinga, kini bergeser menyusuri hatiku. Apakah dua telinga tidak cukup untuk menerima satu gelombang suara ? Mengapa memburuh seonggok hatiku yang rapuh ? Apakah karena hal itu, dengan mudah kau melaluinya ? Pikiran ini kusut tak berujung. Entah kemana kubawa perasaan ini ? Perasaan yang hanya aku miliki. Perasa...